Proxemics Podcast cover art

Proxemics Podcast

Proxemics Podcast

By: White Wood Pod
Listen for free

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.

Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.

🔍 Topik Utama:
✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis
✅ Strategi PR & Corporate Comm
✅ Psikologi Audiens & Media Trend
✅ Marketing, Branding & Reputation

🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi.

Produced by White Wood Pod.

👇 Connect with us:
YouTube: @proxemicspodcast

Instagram: @proxemics.podcast

Business Inquiries: contact@proxemicspodcast.com

© 2026 Proxemics Podcast
Economics Leadership Management & Leadership Marketing Marketing & Sales Politics & Government
Episodes
  • Marketing di Era AI: KYC, GEO, & Kenapa Karakter Lebih Penting dari Skill | 034
    Jun 19 2026

    Some people sell products. Our guest sells trust — dan dia ngelakuinnya di salah satu industri paling susah dipercaya: fintech.

    Di episode Proxemics Podcast ini, kami ngobrol dengan Yosua Tanuwiria — seasoned marketing professional, dengan 15 tahun pengalaman lintas industri dari hospitality sampai financial services. Topik besarnya: marketing di era AI, literasi keuangan, dan apakah AI beneran bakal menggantikan marketer & agency.

    Kami membedah apa yang berubah saat "democratized virality" bikin siapa pun bisa viral, kenapa financial literacy orang Indonesia masih ketinggalan, dan kenapa AI justru bikin jurang antara yang "intuit" dan yang gaptek makin lebar — bukan makin rata.

    Buat kamu yang kerja di marketing, PR, branding, atau agency — dan first-jobber yang lagi cari pijakan — ini diskusi praktisi, bukan teori. Real examples, real frameworks, real talk.

    💡 KEY INSIGHTS

    ▸ KYC = fondasi marketing (bukan yang compliance itu)
    Bukan "Know Your Customer" versi verifikasi data — tapi seberapa beneran kamu paham siapa yang kamu ajak bicara. Brand sering bikin sesuatu yang nggak menjawab masalah siapa pun, dan itu kerja multi-divisi — bukan tugas marketing sendirian.

    ▸ "Knowledge bisa diajarin. Karakter nggak bisa dirubah."
    Tiga hal yang dicari Yos saat hiring: karakter, rasa kepemilikan (ownership), dan kemampuan untuk unlearn. Skill nomor sekian.

    ▸ AI tidak menggantikan — AI memperkuat (kalau kamu tahu caranya)
    Bedanya agency yang menang dan yang tergusur: yang menang pakai AI untuk jadi konsultan yang lebih baik, bukan untuk produksi barang yang klien juga bisa bikin sendiri. Relationship dengan media, regulator, dan stakeholder — itu yang nggak bisa di-prompt.

    ▸ Kenapa AI justru bikin lapangan makin timpang
    Kalau kamu sudah perform DAN melek AI, kamu seperti "Barry Bonds on steroids." Tapi kalau ketinggalan, jaraknya makin jauh. Era AI bukan pemerataan — ini amplifier.

    ▸ Trust di fintech: kamu harus go above and beyond
    Saat terjadi glitch harga forex, CEO mereka langsung live interview dan membiarkan customer menikmati keuntungan dari error itu — walau itu kesalahan partner, bukan internal. Walk the talk, atau kehilangan kepercayaan selamanya.

    🎧 Dengerin full episode-nya, dan subscribe buat diskusi praktisi marketing & PR lainnya tiap minggu.

    ⏱️ TIMESTAMPS
    0:00 Teaser & Bumper in
    01:01 Intro: Bisnis Jualan Trust
    02:16 Democratized Virality Era
    06:11 Realita Know Your Customer
    19:23 Jebakan Ilusi Cepat Kaya
    28:59 The Ability To Unlearn
    41:05 Adaptasi Agensi Era AI
    53:13 Masterclass Crisis Management
    58:07 Red Flag: Drama Queen
    01:00:48 Outro: Closing Statement

    🎙️ Produced by White Wood
    Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
    Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara

    Our Agencies:
    ▸ www.praxis.co.id
    ▸ www.prajna.co.id
    ▸ www.explicar.co.id
    ▸ www.whitewood.digital

    #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #AIMarketing #PublicRelations #FinancialLiteracy #LiterasiKeuangan #GEO #Branding #Fintech #DigitalMarketing #AgencyLife #FOMO #Investasi #KYC #PromptEngineering

    Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

    Show More Show Less
    1 hr and 1 min
  • Pencopotan Kepala BGN: Evaluasi Murni atau Sekadar "Dead Cat Theory"? | 033
    Jun 19 2026

    Isu tata kelola program pemerintah dan investasi *startup* sering kali diselimuti kontroversi dan perdebatan publik—mulai dari kekisruhan logistik Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tuduhan korupsi yang menjerat *Venture Capital* BUMN akibat gagalnya investasi di *startup*. Namun, realita di balik layar menunjukkan adanya tantangan struktural yang kompleks, seperti birokrasi yang kaku dan lambatnya pemahaman hukum terhadap manajemen risiko investasi *high-risk*. Di tengah era di mana disrupsi AI terjadi sangat cepat, institusi publik dan swasta dituntut untuk memiliki strategi komunikasi krisis yang tangguh dan tidak reaktif.

    In this episode of Proxemics Podcast, kita membedah dinamika komunikasi politik dan krisis ekosistem bisnis digital. Anda akan mempelajari apa itu strategi *Dead Cat Theory* dalam lanskap komunikasi pemerintah, pelajaran *Public Relations* dari blunder viral promotor konser, serta ancaman di balik kriminalisasi kerugian investasi *Venture Capital* yang secara sistemik memaksa talenta *startup* lokal untuk eksodus dan berkarya di luar negeri.

    ### Key PR Insights & Analysis

    * **Q: Apakah evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) murni soal tata kelola atau sekadar pengalihan isu?**
    * **A:** Selain adanya evaluasi nyata terhadap tata kelola dan pencopotan kepala BGN, diskusi membedah spekulasi terkait penggunaan strategi "Dead Cat Theory" dalam komunikasi politik, yakni taktik melempar isu sensasional untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih esensial.


    * **Q: Mengapa menyamakan kerugian Venture Capital BUMN di startup dengan tindak korupsi dianggap berbahaya?**
    * **A:** Secara natural, investasi *startup* adalah perjudian berisiko tinggi (*high risk, high reward*). Menjerat kegagalan investasi komersial dengan pidana kerugian negara dapat menciptakan preseden buruk, mematikan ekosistem inovasi, dan mendorong talenta lokal untuk mencari pendanaan di negara dengan birokrasi yang lebih adaptif.


    * **Q: Apa pelajaran PR yang bisa diambil dari krisis promotor konser yang viral baru-baru ini?**
    * **A:** Di era media sosial, respons yang reaktif dan emosional langsung dari *brand* adalah sebuah blunder PR. Pendekatan terbaik adalah menyelesaikan keluhan secara privat di belakang layar terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsumen tersebut sebagai validator pihak ketiga untuk mengklarifikasi bahwa masalah telah terselesaikan.



    ---

    ### Timestamps

    00:00 - Opening & Highlights
    00:59 - Intro & Blunder PR Politik
    16:18 - Evaluasi program makan bergizi (MBG)
    23:02 - Apa itu Dead Cat Theory
    25:57 - Krisis PR Konser F4
    34:14 - Kasus TANI HUB & VC BUMN
    40:18 - Risiko startup vs tindak korupsi
    51:31 - Startup Lokal Terjegal Birokrasi
    54:08 - Ancaman AI Prompting di 2026
    55:35 - Outro & Closing

    ---

    **Brands/People Mentioned:**
    Dinopati Jalal, Tedy Indrawijaya, Ferry Irwandi, BGN, F4/FSE, TaniHub, BRI Ventures, MDI Ventures, Telkom Indonesia, Temasek, Google, OpenAI.

    **Produced by White Wood**
    Hosts: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia
    Regulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan Tenggara


    **Our Agencies:**

    * www.praxis.co.id
    * www.prajna.co.id
    * www.explicar.co.id
    * www.whitewood.digital

    #ProxemicsPodcast #DeadCatTheory #StartupIndonesia #TaniHub #VentureCapital #KrisisKomunikasi #Birokrasi #PublicRelations #MakanBergiziGratis #MarketingIndonesia

    Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

    Show More Show Less
    56 mins
  • Realita Bisnis PR Hospitality & Sisi Gelap Ekosistem Agensi: Sekadar Mitos Glamor? | 032
    Jun 18 2026

    Bekerja di industri Public Relations (PR) hospitality dan lifestyle sering kali diselimuti ilusi kemewahan—fine dining, hotel bintang lima, dan kehidupan serba glamor. Namun, realita di balik layar menuntut kedisiplinan tingkat tinggi, manajemen klien yang kompleks, dan kerja keras yang sering kali tersembunyi dari publik. Di tengah era di mana AI mulai menggantikan peran tradisional dan fenomena "Conscious Unbossing" melanda talenta muda, agensi PR menghadapi tantangan regenerasi SDM dan tuntutan added value yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    In this episode of Proxemics Podcast, Stef (Praxis) membedah dinamika bisnis agensi komunikasi bersama Viana Igah, Founder Prefinite dan Askara Group. Anda akan mempelajari bagaimana strategi membangun agensi PR berkaliber premium, pentingnya transisi ke Hybrid PR, dan bagaimana pemimpin agensi menavigasi krisis SDM ketika generasi muda secara sadar menolak promosi jabatan demi kesejahteraan mental.

    Key PR Insights & Analysis
    Q: Apakah industri PR benar-benar seglamor yang terlihat di media sosial?
    A: Sama sekali tidak. Mitos kemewahan di Instagram hanyalah hasil akhir dari "tangis dan air mata" di balik layar. Praktisi PR hospitality bekerja dengan jam kerja yang tidak menentu dan dituntut memiliki kedisiplinan operasional yang sangat tinggi, layaknya standar perhotelan bintang lima.

    Q: Mengapa strategi organik saja tidak lagi cukup, dan apa itu Hybrid PR?
    A: Di ekosistem media yang tersaturasi, strategi Hybrid PR—menggabungkan relasi organik dengan investasi berbayar (paid media/KOL)—menjadi sebuah keharusan. Brand dan klien harus diedukasi bahwa lanskap media dan kreator konten juga membutuhkan investasi (bukan hanya barter) agar ekosistem komunikasi tetap berjalan sehat.

    Q: Apa itu fenomena "Conscious Unbossing" dan dampaknya bagi agensi?
    A: Ini adalah fenomena di mana pekerja muda secara sadar menolak promosi ke tingkat manajerial. Mereka enggan memikul beban mental dan tanggung jawab lebih, dan lebih memilih menjaga work-life balance. Hal ini menciptakan tantangan retensi dan regenerasi SDM yang signifikan, memaksa agensi untuk terus mendefinisikan ulang corporate culture yang positif.

    Timestamps
    00:00 - Intro: Realita Agensi PR & Mitos Kemewahan
    02:23 - Awal Karier Viana Igah di Industri Perhotelan
    07:55 - Turning Point: Memilih Keluarga & Awal Mula Berdirinya Prefinite
    17:36 - Ekspektasi vs Realita: Sisi Gelap Dunia PR & Influencer
    21:26 - Hybrid PR: Kenapa Media Organik Saja Tidak Cukup?
    31:55 - Bedah Fenomena "Conscious Unbossing" di Agensi Komunikasi
    39:23 - Ancaman AI & Tantangan Terbesar Regenerasi SDM
    46:50 - Ekspansi Askara Group & Peluncuran TFL Paper
    50:19 - Mengeksplorasi Ekosistem Seni Lewat Art Moments Jakarta

    Brands/People Mentioned
    Viana Igah, Prefinite, Askara Group, Praxis, Hotel Indonesia Kempinski, Raffles Jakarta, St. Regis Bali, Aman Group, Harumi, Art Moments Jakarta, TFL Paper, Zilo.

    Produced by White Wood
    Host: Mercy Tahitoe & Stephanie Sicilia

    Our Agencies:
    www.praxis.co.id
    www.prajna.co.id
    www.explicar.co.id
    www.whitewood.digital

    #PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #PRAgency #ManajemenReputasi #VianaIgah #ConsciousUnbossing #HybridPR #BisnisAgensi

    Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

    Show More Show Less
    59 mins
adbl_web_anon_alc_button_suppression_t1
No reviews yet